Era
modern yang serba transparan saat ini, membuat persaingan di dunia
usaha semakin ketat dan kompetitif. Kompetitor yang juga merupakan
pemain pasar, membuat denyut persaingan semakin mengeliat. Semakin
banyak pemain pasar, semakin besar dan bertumbuh pasar tersebut.
Sehingga, untuk memenangkan persaingan tersebut, perusahaan dituntut
dapat memenuhikeinginan & kebutuhan konsumen atau biasa disebut
juga dengan istilah ekspektasi konsumen melalui sebuah strategi.
Strategi pemasaran menjadi faktor utama dalam menaklukkan dan
memenangkan persaingan. Pemasaran juga menjadi senjata ampuh serta
berperan penting dalam mengantisipasi perubahan-perubahan yang
terjadi baik untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.
Demi
membangun merek, tidak sedikit perusahaan yang melakukan aktivitas
pemasaran dan promosi dengan biaya yang relatif tinggi. Namun
kenyataannya, banyak juga yang gagal dan terhempas dari persaingan,
karena ternyata aktivitas promosi maupun komunikasi pemasarannya
masih belum efektif. Agar memperoleh hasil optimal yang efektif, maka
bauran promosi sebagai alat komunikasi pemasaran harus dioptimalkan
dan diintegrasikan, untuk dapat membidik tepat kepada pasar sasaran.
Strategi komunikasi yang memadukan alat-alat komunikasi pemasaran ini
adalah Strategi Komunikasi
Pemasaran
Terintegrasi (Integrated Marketing Communication). Dalam menerapkan
strategi tersebut, maka perlu pengelolaan yang didasarkan pada fungsi
manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian,
pengoordinasian, dan pengendalian. Faktor lain yang menentukan
kesuksesan keberhasilan suatu usaha adalah konsistensi perusahaan
dalam implementasi strategi komunikasi pemasaran yang telah disusun.
Pengertian
Pemasaran Pemasaran adalah suatu proses sosial, dimana individu dan
kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan, dan mereka inginkan
dengan menciptakan dan mempertahankan produk dan nilai dengan
individu dan kelompok lainnya. (Philip Kotler, 1997). Pemasaran
adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses
penciptaan, penawaran dan perubahan values dari satu inisiator kepada
stakeholdernya. (Hermawan Kartajaya, 1996). B. Strategi
Pemasaran
Strategi adalah cara agar dapat mencapai sebuah sasaran. Robbins &
Coulter (2007) mendefinisikan strategi sebagai keputusan dan tindakan
yang menentukan kinerja jangka panjang sebuah organisasi. Mereka juga
menggambarkan pentingnya strategi bagi para manager pemasaran dengan
mengatakan bahwa melalui pemasaran strategis, para manajer menetapkan
rencana permainan atau peta perjalanan yaitu strategi-strategi
tentang bagaimana organisasi melakukan bisnis, bagaimana organisasi
akan bersaing dan bagaimana organisasi menarik dan memuaskan
pelanggannya agar sasaran-sasaran organisasi dapat dicapai. Kotler
dan Amstrong (2004) mendefinisikan strategi pemasaran sebagai logika
pemasaran dengan mana unit bisnis berharap untuk mencapai sasaran
pemasarannya.
Segmentation,
Targeting dan Positioning
a.
Segmentation (Segmentasi pasar) Segmentasi pasar adalah proses
mengelompokkan pasar ke dalam segmen yang berbeda-beda. Segmen pasar
adalah sekelompok pembeli yang memberikan respon yang sama terhadap
aktivitas pemasaran tertentu. (Bilson Simamora, 2013).
b.
Targeting (Penetapan pasar sasaran)
Penetapan
pasar sasaran adalah menentukan segmen-segmen pasar yang potensial
bagi perusahaan. Targeting juga merupakan strategi dalam
mengalokasikan sumber daya secara efektif. Strategi ini perlu
dilakukan untuk mempermudah proses penyesuaian sumber daya-
sumberdaya yang anda miliki (fitting) ke dalam segmen-segmenpasar
yang telah dipilih. (Hermawan Kartajaya, 2006)
c.
Positioning (Penempatan produk) Penempatan produk adalah strategi
untuk memenangi dan menguasai benak pelanggan melalui produk yang
kita tawarkan. Juga merupakan upaya mengarahkan pelanggan anda secara
kredibel. Positioning juga merupakan upaya membangun dan mendapatkan
kepercayaan pelanggan. (Hermawan Kartajaya, 2004)
Konsep
Bauran Pemasaran Agar implementasi strategi komunikasi pemasaran
dapat berjalan dengan sukses, maka diperlukan berbagai elemen yang
dapat dikendalikan oleh perusahaan seperti product, price, place dan
promotion. Keempat elemen tersebut dikenal dengan bauran pemasaran
(marketing mix). Menurut William J. Stanton (1993) pemasaran adalah
suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk
merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan
barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan jasa baik kepada
konsumen saat ini maupun konsumen potensial. Kotler (2000)
mendefinisikan bahwa bauran pemasaran adalah kelompok kiat pemasaran
yang digunakan perusahaan untuk mencapai sasaran pemasarannya dalam
pasar sasaran.
Sedangkan
Jerome Mc-Carthy dalam Fandy Tjiptono (2004) merumuskan bauran
pemasaran menjadi 4 P (Product, Price, Promotion dan Place).
a.
Product (Produk). Merupakan bentuk penawaran organisasi jasa yang
ditujukan untuk mencapai tujuan melalui pemuasan kebutuhan dan
keinginan pelanggan. Produk disini bisa berupa apa saja (baik yang
berwujud fisik maupun tidak) yang dapat ditawarkan kepada pelanggan
potensial untuk.memenuhi kebutuhan dan keinginan tertentu. Produk
merupakan semua yang ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan,
diperoleh dan digunakan atau dikonsumsi untuk dapat memenuhi
kebutuhan dan keinginan yang berupa fisik, jasa, orang, organisasi
dan ide.
b.
Price (Harga) Bauran harga berkenaan dcngan kebijakan strategis dan
taktis seperti tingkat harga, struktur diskon, syarat pembayaran dan
tingkat diskriminasi harga diantara berbagai kelompok pelanggan.
Harga menggambarkan besarnya rupiah yang harus dikeluarkan seorang
konsumen untuk memperoleh satu buah produk dan hendaknya harga akan
dapat terjangkau oleh konsumen.
c.
Promotion (Promosi) Promosi adalah kegiatan untuk memperkenalkan
suatu produk atau jasa pada pasar sasaran, untuk membangun persepsi
pelanggan mengenai produka atau jasa yang ditawarkan. Bauran promosi
meliputi berbagai metode, yaitu Iklan, Promosi Penjualan, Penjualan
Tatap Muka dan Hubungan Masyarakat.
d.
Place (Saluran Distribusi) Merupakan keputusan distribusi menyangkut
kemudahan akses terhadap jasa bagi para pelanggan. Tempat dimana
produk tersedia dalam sejumlah saluran distribusi dan outlet yang
memungkinkan konsumen dapat dengan mudah memperoleh suatu produk. C.
Merek Merek bukan sekedar nama, bukan pula sekedar logo atau sekedar
simbol tetapi merek adalah indikator value yang anda tawarkan kepada
pelanggan. Merek adalah aset yang menciptakan value bagi pelanggan
dengan memperkuat kepuasan dan loyalitasnya. Merek adalah resultan
dari semua langkah yang dijalankan terhadap produk. Ketika kita
menentukan STP (segmentation, targeting, positioning) dan
diferensiasi, serta mendukungnya dengan bauran pemasaran (strategi
produk, harga, distribusi, promosi) dan strategi selling yang solid,
sebenarnya kita sedang membangun dan mengembangkan sebuah merek.
(Hermawan
Kertajaya, 2004) Kotler (2005) menambahkan merek adalah suatu simbol
rumit dapat menyampaikan hingga enam tingkat pengertian yaitu di
bawah ini:
1.
Atribut : Merek mengingatkan atribut-atribut tertentu.
2.
Manfaat : Atribut-atribut harus diterjemahkan menjadi manfaat
fungsional dan emosional.
3.
Nilai : Merek tersebut juga menyatakan sesuatutentang nilai
produsennya.
4.
Budaya : Merek tersebut juga melambangkan budaya tertentu.
5.
Kepribadian: Merek tersebut dapat mencerminkan kepribadian tertentu.
6.
Pemakai : Merek tersebut menyiratkan jenis konsumen yang membeli atau
menggunakan produk tersebut. Yang membedakan merek dari sesama
komoditas tanpa merek adalah persepsi dan perasaan pelanggan tentang
atribut produk tersebut sesuai kinerja produk tersebut. Akhirnya,
merek tetap tinggal dalam benak konsumen. (Kevin Keller dikutip oleh
Kotler (2005).
Komunikasi
Pemasaran Definisi komunikasi pemasaran menurut Sutisna (2002) adalah
komunikasi pemasaran merupakan usaha untuk menyampaikan pesan kepada
publik terutama konsumen saran mengenai perbedaan produk di pasar.
Promosi
adalah segala bentuk komunikasi yang digunakan untuk menginformasikan
(to inform), membujuk (to persuade), dan mengingatkan (to remind)
pasar sasaran tentang produk yang dihasilkan organisasi, individu
ataupun rumah tangga dan bertujuan untuk menstimulasi permintaan
pasar sasaran. (Bilson Simamora, 2013). Dalam komunikasi ada dua
elemen yang terlibat, yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima
pesan (receiver). Ada dua perangkat yang digunakan yaitu Pesan
(message) dan media. Ada empat fungsi yang dilakukan, yaitu
Pengkodean (encoding), Penerjemah Kode (decoding), respon (response)
dan umpan balik (feedback).
Elemen
terakhir yang terlibat tetapi tidak diinginkan adalah gangguan
komunikasi (noises). (Bilson Simamora, 2013). Dalam menentukan respon
atau tanggapan, langkah awal yang dilakukan adalah mengidentifikasi
audien sasaran agar komunikasi pemasaran yang sudah di desain lebih
efektif. Menurut Kotler (2005), Respon konsumen dalam melakukan
pembelian akan melalui tahapan yang terdiri dari Tahap Cognitive
(tahap kesadaran), Tahap Affective (tahap pengaruh), Tahap Conative
(tahap perilaku/ tindakan pembelian).
Ada
empat model untuk mengetahui respon/ tanggapan konsumen yang tertuang
dalam Model hierarki tanggapan. Dan keempat Model tersebut akan
melewati tahapan respon konsumen yaitu:
1.
Model AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) Pada prosesnya
konsumen akan mengawali dengan tahap Cognitive, melalui Attention
(menaruh perhatian), kemudian proses berlanjut ke tahap Affective
yaitu konsumen akan merasa Interest (ketertarikan) serta mulai Desire
(berniat/ berhasrat), proses ini terus berlanjut sampai akhirnya
masuk ke tahap Conative yaitu konsumen memutuskan untuk Action
(tindakan membeli).
2.
Model Hierarki efek Proses pertama, konsumen akan mengawali dengan
tahap Cognitive, melalui efek kesadaran dan pengetahuan, kemudian
proses berlanjut ke tahap Affective dengan efek kesukaan, preferensi
dan keyakinan, proses ini terus berlanjut sampai akhirnya masuk ke
tahap Conative, dengan tindakan Pembelian dari konsumen.
3.
Model Inovasi Adopsi Sama dengan proses pada kedua model diatas,
model Inovasi Adopsi juga melalui proses dimana konsumen akan
mengawali dengan tahap Cognitive, melalui kesadaran. Pada tahap
selanjutnya yaitu tahap Affective, Konsumen akan mulai menaruh minat
dan melakukan evaluasi. Proses ini terus berlanjut sampai akhirnya
masuk ke tahap Conative, dengan tindakan Percobaan dan Adopsi dengan
pembelian.
4.
Model komunikasi Pada tahap tahap Cognitive, proses yang dilalui
konsumen secara berurutan adalah Keterbukaan, Penerimaan dan Respon
Kognitif. Proses ini akan berlanjut dengan Sikap dan Maksud dalam
tahap Affective. Pada tahap akhir yaitu tahap Conative, konsumen akan
melakukan tindakan dengan Perilaku pembelian. E. Komunikasi Pemasaran
Terintegrasi Komunikasi pemasaran harus di integrasikan untuk
menyampaikan pesan yang konsisten dan mencapai positioning strategis.
Untuk meningkatkan memori terhadap merek, diperlukan pemrosesan yang
lebih intens dan menyeluruh sehingga hubungan merek yang lebih kuat
dengan kategori produk atau kebutuhan konsumen dapat dibangun untuk
meningkatkan kinerja memori. Komunikasi Pemasaran Terintegrasi atau
IMC (Integrated Marketing Communication) adalah sebuah konsep
komunikasi pemasaran yang mengidentifikasi nilai tambah dari sebuah
rencana komprehensif yang mengevaluasi peran-peran strategis dari
beragam disiplin ilmu komunikasi, sebagai contoh periklanan, direct
response, sales promotion dan public relation dan mengkombinasikan
disiplin-disiplin tersebut untuk memberikan clarity, konsistensi dan
efek komunikasi yang maksimal. (George E. Belch & Michael E.
Belch, 2001)
Menurut
(Kotler & Keller, 2009), komunikasi pemasaran terdiri dari
delapan model komunikasi utama agar dapat mendorong efektifitas dan
efisiensi, antara lain:
1.
Iklan, yaitu semua bentuk terbayar dari presentasi non personal dan
promosi ide, barang atau jasa melalui sponsor yang jelas. Yang
termasuk jenis Iklan yaitu Iklan cetak dan tayangan, Kemasan luar,
Sisipan kemasan, Film, Brosur dan buklet, Poster dan selebaran,
Direktori, Cetak ulang iklan, Papan iklan, Tanda panjangan, Pajangan
titik pembelian, Bahan audiovisual, Simbol dan logo, Video.
2.
Promosi penjualan, berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong
percoba an atau pembelian produk atau jasa. Yang termasuk jenis
Promosi penjualan yaitu Kontes, permainan, undian, lotre, Premi dan
hadiah, Sampel, Bazar dan pameran dagang, Pameran, Demonstrasi,
Kupon, Rabat, Pembiayaan berbunga rendah, Hiburan, Tunjangan
pertukaran barang bekas.
3.
Acara dan pengalaman, kegiatan dan program yang diseponsori
perusahaan yang dirancang untuk menciptakan interaksi harian atau
interaksi yang berhubungan dengan merek tertentu. Yang termasuk jenis
Acara dan pengalaman yaitu Olahraga, Hiburan, Festival, Seni, Acara
amal, Tur pabrik, Museum perusahaan.
4.
Hubungan masyarakat dan publisitas, beragam program yang dirancang
untuk mempromosikan atau melindungi citra perusahaan atau produk
individunya. Yang termasuk jenis Hubungan masyarakat dan publisitas
yaitu Peralatan media, Pidato, Seminar, Laporan tahunan, Donasi amal,
Publikasi, Hubungan komunitas, Lobi, Media indentitas, Majalah
perusahaan.
5.
Pemasaran langsung, penggunaan surat, telepon, facsimile, e-mail,
atau internet untuk berkomunikasi secara langsung dengan atau
memintan respons atau dialog dari pelanggan dan prospek tertentu.
6.
Pemasaran interaktif, kegiatan dan program online yang dirancang
untuk melibatkan pelanggan atau prospek secara langsung atau tidak
langsung meningkatkan kesadaran, memperbaiki citra, atau menciptakan
penjualan produk dan jasa. Yang termasuk jenis Pemasaran langsung dan
interaktif yaitu Katalog surat, Telemarketing, Belanja elektronik,
Belanja TV, Surat faks, E- mail, Surat suara, Blog, Situs web.
7.
Pemasaran dari mulut ke mulut, komunikasi lisan, tertulis, dan
elektronik antar masyarakat yang berhubungan dengan keunggulan atau
pengalaman membeli atau menggunakan produk atau jasa. Yang termasuk
jenis Pemasaran dari mulut ke mulut yaitu Orang ke orang, Chat room,
Blog.
8.
Penjualan personel, interaksi tatap muka dengan satu atau lebih
pembeli prospektif untuk tujuan melakukan presentasi, menjawab
pertayaan, dan pengadaan pesanan.
9.
Yang termasuk jenis Penjualan personel yaitu Presentasi penjualan,
Rapat penjualan, Program insentif, Sampel, Bazar dan pameran dagang. Pengendalian Strategi Pemasaran Pelaksanaan aktivitas pemasaran
perlu dimonitor, dibandingkan dan dikoreksi karena seringkali terjadi
gap antara realisasi dengan target/ rencana semula. Pengendalian
adalah fungsi manajemen yang meliputi pemonitoran (monitoring),
pembandingan (comparing), dan pengoreksian (correcting), kinerja
actual dengan suatu standar, lalu mengambil tindakan manajerial yang
sesuai (Robbins dan Coulter 2007). Pengendalian strategis adalah
tugas untuk menjamin bahwa tujuan, strategi dan sistem pemasaran
perusahaan secara optimal diselaraskan dengan lingkungan pemasaran
yang diramalkan nanti dan yang sekarang.
Suatu
perangkat yang dikenal sebagai instrumen untuk menilai efektivitas
pemasaran menunjukkan profil efektivitas pemasaran di seluruh divisi
atau perusahaan dalam hal; filsafat pelanggan, organisasi pemasaran,
informasi pemasaran, perencanaan strategis dan efisiensi operasional.
Perangkat lain, yang dikenal sebagai audit pemasaran, merupakan suatu
pengamatan berkala, bebas, sistematis dan menyeluruh terhadap
lingkungan, tujuan-tujuan, strategi-strategi dan kegiatan-kegiatan
pemasaran perusahaan. Tujuan audit pemasaran adalah untuk menentukan
bidang masalah pemasaran dan merekomendasikn rencana tindakan
korektif bersifat jangka panjang maupun jangka pendek guna
meningkatkan efektivitas pemasaran secara menyeluruh dari organisasi
tersebut. (M. Suyanto, 2007).
Kompetisi
yang ketat, lingkungan yang dinamis dan konsumen yang semakin pintar,
mewajibkan perusahaan untuk mampu memperkirakan arah perubahan dan
menentukan strategi yang handal untuk menghadapinya. Sekedar memenuhi
keinginan dan kebutuhan dirasa belum cukup untuk memenangi
persaingan, karena para pesaing melakukan hal yang sama.Maka untuk
dapat memenangkan persaingan dan terus menjaga kelangsungan hidup,
tuntutan memberikan kepuasan konsumen atau pasar sasaran menjadi hal
wajib dan tidak bisa ditawar lagi.
Dalam
rangka memenangkan persaingan di pasar tersebut, perusahaan perlu
menciptakan dan menerapkan strategi yang berorientasi pasar. Strategi
pemasaran melalui Komunikasi Pemasaran Terintegrasi dapat menjadi
pilihan yang tepat dan efektif. Konsistensi serta intensitas dalam
penerapan strategi Komunikasi Pemasaran Terintegrasi seperti iklan.
Promosi penjualan, acara dan pengalaman, hubungan masyarakat dan
publisitas, pemasaran langsung, pemasaran interaktif, pemasarandari
mulut ke mulutdan penjualan personel, akan mampumenciptakan dan
membangun merek. Sebuah merek yang kuat mempunyai kekuatan dalam
memberikan nilai tambah kepada pelanggan.
Pada
akhirnya, Pelanggan atau konsumen yang sudah terjalin dengan merek
yang memberikan nilai tambah akan menjadi loyal. Pentingnya upaya
perbaikan terus menerus melalui feedback konsumen, perlu dilakukan
untuk memenuhi perubahan keinginan dan kebutuhan berkelanjutan
konsumen. Feedback terebut akan didapatkan dari berbagai tahapan dari
proses pengendalian yaitu tahapan monitoring dan evaluasi.

Yth Bapak Teguh Mahameru, S.Pd.
BalasHapusAlangkah lebih baik, apabila disampaikan sumber penulisannya :)
Salam,
Yudi Dwi Harjo